Skip to content →

Teknologi Pendidikan dan Impian Guru Muda Indonesia

Teknologi pendidikan di Indonesia boleh jadi sudah lama diterapkan. Namun, sejauh yang saya lihat masih terlalu fokus pada seputar hal-hal teknis “agar guru Indonesia bisa tetap makan”. Tidak dapat dipungkiri, hal teknis sangat diperlukan sebagai salah satu metode controling kinerja guru. Akan tetapi, mungkin guru Indonesia belum siap untuk menerima ‘banjir bandang’ yang digelontorkan dari hulu tersebut. Terkadang juga seperti terkesan dipaksakan sebagai syarat menerima kesejahteraan. Jika sudah seperti itu, lantas kapan Teknologi Pendidikan akan benar-benar menyentuh semua aspek pendidikan?

Teknologi Pendidikan

Teknologi pendidikan merupakan studi dan praktik yang memfasilitasi proses pembelajaran untuk meningkatkan kinerja proses pembelajaran dengan menggunakan bantuan TIK yang sesuai. Teknologi Pendidikan Teknologi menggunakan perangkat keras dan teori pendidikan yang mencakup beberapa aspek, termasuk teori pembelajaran, pelatihan berbasis komputer, pembelajaran online, dan m-learning. (Sumber: Wikipedia)

Mobile Learning
Teknologi Pendidikan adalah penggunaan TIK dalam proses pendidikan

Teknologi pendidikan berusaha menerapkan ilmu perilaku (behavior) dan teori pembelajaran melalui pendekatan sistem untuk menganalisa, mendisain, mengembangkan, menerapkan, mengevaluasi, dan mengatur penggunaan TIK untuk membantu menyelesaikan masalah pembelajaran dan pendidikan pada umumnya. Perlu Anda garis bawahi;

  1. Menganalisa;
  2. Mendesain;
  3. Mengembangkan;
  4. Menerapkan;
  5. Mengevaluasi, dan;
  6. Mengatur.

Keenam kata kerja di atas dapat dijadikan sebaga landasan bagaimana teknologi pendidikan dapat diterapkan. Namun, dalam tulisan ini saya ingin menyampaikan bagaiamana teknologi pendidikan dapat diterapkan secara ideal. Yang mencakup kebijakan pemerintah, kebijakan sekolah, tertib administrasi, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi pendidikan. Yang terpenting, bagiamana cara memudahkan guru untuk menangani sejuta tanggung jawab dalam kesehariannya.

Teknologi Pendidikan Impian Guru Muda Indonesia

Semalam saya sempat mewawancarai salah satu calon sarjana yang sudah menjadi guru muda Indonesia. Begini isi wawancara yang dilakukan melalui chat WhatsApp.

Guru Mengajar
Guru Mengajar Via Pexels.com

Aa Toriq (Saya) : “Kalau jadi guru, list kerjaannya apa aja? Eta terangkanlah!”.

X (Nurul Amanah) : ‘membalas chat WA’

  1. Rapat pembagian tugas sebelum ajaran baru (dapet mapel apa, guru kelas, pembina atau wali kelas);
  2. Bikin administrasi guru (Analisis KKM, prota, promes, silabus, RPP, penilaian);
  3. Ngajar;
  4. Ngisi daftar absen dan ulangan harian siswa (buku hijau);
  5. Ngisi agenda harian guru (buku merah);
  6. Ngisi agenda kelas;
  7. Absen di kantor;
  8. Suka ada briefing;
  9. Ada yg ditunjuk ke acara pendampingan kurtilas (simulasi ngajar kurtilas) *opsional;
  10. Ngadain ulangan tiap KD, UTS, UAS;
  11. Ngoreksi, ngadain remedial;
  12. Penilaian akhir siswa;

Aa Toriq: “Gak pusing?”

X: “Biasa aja tuh, mudah saja (sambil nangis kayaknya).”

Aa Toriq: “Yang paling berat apa kerjaan rumahnya?”

X: “Kerjaan rumah, gimana maksudnya? ~~ Oooo….paling ngoreksi tugas siswa. Soalnya kan banyak”

Aa Toriq: “Kerjaan manual semua, :D. Kalau masalah yang paling umum apa?”

X: “Kalo masalah guru senior, banyak yang ga bisa pake komputer di sekolah ‘ini’. Makanya banyak yang pesen bikin RPP. Waktu hari kamis, aku ngebantu guru yang pengen tau cara bikin PPT dari awal. Aplikasinya pun ga tau apa yg harus dipake buat bikin PPT.”

Aa Toriq: “Yang senior bentar lagi juga bakal pensiun. 😀 ”

X: ” Secara umum administrasi guru sih, yang bikin mereka kelabakan.”

Aa Toriq: “Administrasinya apa aja?”

X: “Kalendar pendidikan, analisis KKM, Prota, Promes, Silabus, RPP, penilaian (ulangan harian, UTS, UKK, sikap), analisis soal UKK”

Aa Toriq: “Susahnya pada gak punya bahannya apa ga ada contohnya?”

X: “Karna perubahan dari KTSP ke Kurtilas, banyak guru yg belum tau format kurtilas. Bahkan, 5M (mengamati, menanya, …dst.) pada baru denger. Ya info kurtilas, tau dari guru yg ikut pendampingan kurtilas. Waktu mereka kuliah kan ga diajarin kurtilas kayak eikeu”

Aa Toriq: “Mengerucut ke masalah administrasi. Kalo dikategoriin ada brpa kategori jenis adm?”

X: “Cuma ini (lampiran chat sebelumnya) . Kalo per kategori, berarti sebelum pembelajaran, pas pembelajaran, dan setelahnya”

Aa Toriq: “Itu semua ada urutan turunannya kan yah?”

X: “Iya secara berurut, semuanya bersumber dari perhitungan kalendar pendidikan. Kalo kalendar pendidikan, secara umum didapat dari Disdik. Nanti diedit lagi sesuai kegiatan sekolah. Bekerja sama dengan kepsek & wakasek kurikulum, nanti TU yg ngeditnya. Guru minta kalendar pendidikan yg udah jadi di TU”

Aa Toriq: “Terus baru nganalisa KKM?”

X: “Setelah kalendar pendidikan, guru ngitung minggu efektif & tidak efektif sesuai jadwal ngajar. Perhitungan kalendar ini ditaro di Prota. Dibagi tiap KD (sebelumnya bikin outline seberapa besar cakupan konten pelajaran). Nanti minggu efektif itu dibagi tiap Jam Pelajaran per KD. Setelah itu bikin Promes (gabungin jadwal kita masuk dan acara sekolah). Kalo analisis KKM, aku baru tau dari sekolah. Waktu kuliah dan PPL, ngga ada. Intinya, analisis KKM itu dilihat dari nilai inteks siswa, nilai sarana prasarana pembelajaran, besaran nilai per KD, dirata2in jadi KKM mapel”

Aa Toriq: “Ya intinya bikin pusing. Dah disimpen dulu cepet istirahat.

X: “Ngga bikin pusing kok, kan dulu dosen PPL 1 nya Pak Asep (dosen paling super bidang kurikulum). Bener-bener diajarin seluk-beluk administrasi guru dari awal. PPL 1 dari jam 4 sampe maghrib ngebahas administrasi guru”

Aa Toriq: “Yang lagi Aa kaka bayangin begitu TU bikin kalender pendidikan sama jadwal per guru, otomatis kelihatan hari efektif per gurunya. Nanti guru tinggal masukin apa tuh namanya, KD KKM sama nama siswa, terus semua data diproses. Semua proses bisa dibuat efektif kalau dari hulu ke hilir sudah dirancang terintegrasi”

X: “Aku tuh ya pengen ada aplikasi yg kalo kita mau masukkin nilai di kolom UH/UTS/UKK, bisa dipermudah. Misal: aku nyebutin nama, jenis ulangan, sama nilai, otomatis di aplikasi tertulis nilainya. Bayangin aja, 9 kelas x 1 kelas 40 siswa = 360 kertas yg harus dikoreksi dan dimasukkan nilainya. Kalo saja kerjaan guru yg satu ini dipermudah.”

Aa Toriq: “Dipermudahnya gimana? Tetep aja perlu dikoreksi kan?”

X: “Iya siiih, minimal masukkin nilainya lah. Aku juga ga bisa ngebayangin teknisnya gimana, kalo ada App itu, amazing lah.”

~~~

Bisnis dan Sosial dalam Teknologi Pendidikan

Sebagai seorang developer TIK yang suka cari-cari masalah, masalah yang saya pahami dari percakapan di atas menjadi angin segar. Bahkan sangat segar sampai-sampai saya ingin lompat hingga ke surga. Bayangkan saja, Kemedikbud melaporkan tahun 2017-2018 setidaknya ada 2.343.860 guru dari 216.925 sekolah. Jika saya mampu membuat sebuah aplikasi layanan berbasis SaaS (Software as a Services) yang memberikan semua solusi administrasi dan bonus konten pembelajaran, ada dua opsi model bisnis yang dapat saya kembangkan;

Menjual pada guru

Kalkulasi kasarnya (Jika saya bisa menjangkau 5% total guru):

117.193 guru x Rp. 100.000/ bulan = Rp. 11.719.300.000 /bulan (bruto)

Menjual pada sekolah

Kalkulasi kasarnya (Jika saya bisa menjangkau 5% total sekolah):

10.846 sekolah x Rp. 1.000.000/ bulan = Rp. 10.846.000.000 /bulan (bruto)

Tentu dengan masing-masing kelebihan dan kelemahannya. Sangat menggiurkan untuk ukuran saya yang belum pernah punya uang hingga ratusan juta. Cukuplah untuk ukuran Startup yang baru berkembang seperti PuskoMedia Indonesia ini.

Toko Online
Uang dari bisnis online via pexels.com

Kenyataan Teknologi Pendidikan

“Om-om, bangun om”. Jedag, saya harus kembali jatuh ke bumi. Parahnya lagi jatuh ke kubangan lumpur jalanan. Boro-boro bayar Rp. 1.000.000 atau Rp. 100.000/ bulan. “Saya ini sebulan aja cuma digaji 300 ribu perak Om, mau beli makan siang dari mana saya di sekolah? Atau kuota internet perbulan?”

Sejak kuliah hal di atas sudah menjadi cikal bakal pertimbangan paling kecut yang saya hadapi kalau maksa jadi guru atau bisnis di lingkungan pendidikan. Pontang-panting saya memeras otak, hingga tahun 2013 lahirlah nama Kumbang ~ Kumbang Foundation (Komunitas Pengembang Bahan Ajar) dan PuskoMedia ~ PuskoMedia Indonesia ~ PT Puskomedia Indonesia Kreatif (Saudara dekat Kumbang di ranah bisnis).

Niat hati ingin berbisnis mati-matian cari modal untuk menghidupi Kumbang yang notabenenya sebuah komunitas. Karena sudah pasang kuda-kuda, ‘ogah saya minta bantuan sana-sini dengan bawa proposal bantuan’ (kapok, sudah pernah ditolak 4 kali :D) ditambah lagi “They don’t care about it (me & us)“. Mungkin sampai saat ini, Kumbang masih jadi artefak putri salju yang tersisa dari sisa-sisa reruntuhan masa kuliah.

Dahulu kala, Kumbang Foundation merupakan (calon) sebuah organisasi nirlaba yang fokus mengembangkan bahan ajar digital. Pemikiran saat itu mungkin terlalu lancang, hingga lupa bahwa guru Indonesia boro-boro memikirkan bahan ajar digital (dan mutimedia pembelajaran). Dibebani urusan administrasi pendidikan saja sudah klabakan. Ditambah dosa turunan Oemar Bakri tak kunjung tertebus.

StatUp milik kakak angkatan saya yang sekarang sudah sukses dengan layanan berbasis konten – KelasKita.com mungkin adalah salah satu contoh layanan konten teknologi pendidikan di Indonesia. Namun, sampai saat ini saya belum menemukan Startup yang berusaha memecahkan masalah administrasi guru yang selalu bejubel.

Jika saya boleh menebak, awalnya KelasKita.com pun sangat fokus ke pendidikan (SD, SMP, SMA, PT), hingga saat ini berevolusi menjadi platform elearning yang mengusung model marketplace. Ramai dengan konten bidang bahasa pemrograman TIK dan keahlian teknis lainnya. Tebakan saya, “puyeng cuy, baka pure fokus pendidikan formal kuh.” 😀 (Lol)

Teknologi Pendidikan Indonesia Saat ini

Seperti yang sudah saya bahas di awal, mungkin saat ini Indonesia sudah menerapkan teknologi pendidikan. Namun, saya belum merasa puas hingga masalah administrasi guru yang berjubel dapat di cut teratasi. Harapan saya, setelah guru merasa lega dapat mulai memikirkan bagaimana cara dia mengajar dengan teknologi pendidikan, membuat bahan ajar interaktif dan multimedia pembelajaran. Walaupun masih berat, karena Oemar Bakri belum naik Alphard setiap berangkat ke sekolah. Minimal satu masalah paling mendasar teratasi.

Coba kita list teknologi pendidikan bidang administrasi yang sudah diterapkan di Indonesia, ya minimal sudah ada cikal bakalnya;

  1. Dapodik, teknologi pendataan siswa, guru, dan fasilitas sekolah;

Impian: Teknologi Pendidikan Masa Depan Indonesia

Dasar Pendekatan Teknologi Pendidikan

Teknologi pendidikan berusaha menerapkan ilmu perilaku (behavior) dan teori pembelajaran melalui pendekatan sistem untuk menganalisa, mendisain, mengembangkan, menerapkan, mengevaluasi, dan mengatur penggunaan TIK untuk membantu menyelesaikan masalah pembelajaran dan pendidikan pada umumnya.

Kita garis bawahi poin penting dari pendekatan teknologi pendidikan;

  1. Menganalisa;
  2. Mendesain;
  3. Mengembangkan;
  4. Menerapkan;
  5. Mengevaluasi, dan;
  6. Mengatur.

Mari kita rangkai menjadi sebuah impian masa depan untuk guru-guru kreatif Indonesia. Pada dasarnya, proses pendidikan berlajut mulai dari konsepsi (perencanaan) lahirnya manusia hingga liang lahat. Namun, yang akan saya bahas hanya sebatas mulai dari siswa mendaftar di sebuah sekolah hingga lulus.

Kalau kita amati, proses administrasi pendidikan dimulai dari siswa mendaftar di sebuah sekolah, melaksanakan proses pembelajaran, evaluasi, hingga lulus. Semua data berpangkal pada data siswa dan proses input data dari hasil pembelajaran ke masing-masing siswa (personal). Hasil ulangan harian input ke tiap personal.

Disamping proses administrasi lain yang mencakup kalender pendidikan, analisa KKM yang diterjemahkan ke Prota, diturunkan jadi Promes, diartikan ke dalam silabus, beranak jadi RPP, dibumbui dengan ulangan harian, UTS, UKK, nilai sikap, dan ditaburi dengan analisis soal UKK. Semua bertujuan untuk menghasilkan data inputing yang akan dihadiahkan yang namanya siswa (he or she). Dan kadang-kadang gurunya juga harus piknik.

Solusi Teknologi Pendidikan

Bagaimana kalau kita coba desain sebuah aplikasi pendidikan makro dengan orientasi big data? Tak lupa juga menggunakan framework integrasi yang harmonis, antara kebijakan kepala sekolah, keterbukaan sumber dana, Staff yang mumpuni, pelaksanaan yang ketat, dukungan orang-orang sekitar, kemauan keras guru dan orientasi nilai ibadah. Mungkin, Oemar Bakri bisa sedikit lega walaupun tiap hari masih harus mengayuh pedal sepedanya.

Kita berbicara integrasi sistem di tingkat sekolah saja, kalau berbicara dari mulai bayi lahir sudah masuk sistem ini (akta nikah kelahiran), saya khawatir justru akan menjadi aplikasi impian yang benar-benar ada di surga. Cukup di satu sekolah, misalnya di SMA Idealisme. Kalau masih susah juga, minimal Neng Nurul Amanah sebagai guru muda berbakat, kreatif, tahan banting akan tetap tabah dan tak lelah berkreatifitas mau menggunakan layanan dari pihak ketiga. Dengan sedikit pengorbanan 100 ribu perak tiap bulannya, walaupun sisa 200 ribu masih alhamdulillah. Tenang saja, Aa Toriq akan ngasih bonus 10 juta tiap bulannya, Aamiin. 😀

SMA Idealisme akan menghimbau orang tua wali mendaftarkan putra/ putrinya melalui website sekolah. TU dapat mengolah data siswa dan mulai membagi tiap kelasnya serta mulai sinkronisasi data dengan aplikasi Dapodik. Guru dapat login ke sistem untuk mulai mengolah data siswa. Setiap hari, guru dapat mengabsen kehadiran siswa dengan smartphonenya yang secara langsung dapat masuk ke sistem. Saat ulangan tiba, guru dapat mengoreksi tiap lembar jawaban langsung dnegan smartphonenya, dan terus berulang. Sistem memberi ouput kehadiran siswa dan hasil evaluasi. Wali siswa dapat login ke sistem untuk melihat perkembangan putra/ putrinya. Kertas raport dicut mungkin bisa ditiadakan.

Di tingkat guru, aplikasi bisa membantu menentukan dan inputing KKM. Guru mulai melakukan inputing data pembelajaran di masing-masing pos materi dnegan jam pelajaran paling ideal. Sistem mulai melakukan kalkulasi dan menyebarkan data KI KD. Hingga menghasilkan output silabus, RPP yang dapat direcycle dari tahun ke tahun.

Hingga pada akhirnya, saat siswa lulus sistem mulai mencetak hasil pembelajaran selama 3 tahun dalam album kenangan masing-masing siswa. Wuss, sangat mudah dibayangkan.

Impian Guru dan Si Kumbang

Guru: gaji minimal per bulan Rp. 5.000.000;

Si Kumbang: PuskoMedia Indonesia punya penghasilan 3M sebulan. 20% APBN dianggarkan untuk CSR pendidikan. Aamiin.

Published in Opini

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.